.

5 Oktober 2011

Ya Ayyuhannafsul Muthmainnah...


Terik panas di siang ini membuat keringat mengucur deras. Tak henti Pak Tarjo mengayuh becaknya keliling Jogja, berharap ada yang menyetopnya lalu minta antar. Kemana sajalah, yang penting ia dapat pelanggan. Bahkan ia bergumam dalam hatinya, meskipun penumpang itu minta diantarkan ke Gunung Kidul bahkan Bantul, akan dia jalani.

Masalahnya, sudah seminggu ini pendapatannya menurun. Padahal sejak 8 tahun yang lalu ia mengayuh becak, biasanya penghasilan sehari bisa untuk makan anak dan istri. Namun akhir-akhir ini, meskipun ia sudah lembur tak pulang kerumah, lalu keliling-keliling tidak nge-pos di satu titik, demi supaya bisa dapat penghasilan lebih, justru rezekinya seret dan pendapatannya semakin minim. Ini yang membuat wajah Pak Tarjo semakin kusut. Mengingat sebentar lagi anaknya yang paling kecil juga akan memasuki usia sekolah. Apakah si sulung harus mengalah? Oh tidak, Pak Tarjo ingin semua anaknya bisa sekolah. Jangan sampai seperti dirinya, yang hanya jadi tukang becak sekali-kali serabutan kerja bangunan.

"Ya Allah, kemanakah para turis? Kemanakah mbok-mbok pasar? Kemanakah anak-anak sekolah?", Pak Tarjo bingung, kehilangan penumpang-penumpang setia yang biasanya menyetop becak tua kesayangannya. Ya, angkutan umum modern yang semakin baik, belum lagi akhir-akhir ini busway semakin populer, ditambah semakin ketatnya persaingan antar tukang becak, membuat becak reot Pak Tarjo jauh tenggelam di bursa bisnis angkutan umum.

Memang sebenarnya setiap pagi dan sore Pak Tarjo memiliki penumpang tetap. Ialah langganan Pak Tarjo yakni beberapa orang anak yatim yang akan berangkat sekolah dari sebuah panti asuhan, dan setiap sore Pak Tarjo menjemput mereka dari sekolah serta mengantarkan pula beberapa orang nenek yang ingin berangkat pengajian. Namun, mereka semua adalah penumpang gratis yang tidak membayar kepada Pak Tarjo. Ya, Pak Tarjo memang sudah bertekad untuk tidak memungut bayaran kepada anak-anak yatim dan para nenek karena Pak Tarjo merasa tak pantas meminta upah kepada mereka. Bagaimana mungkin menyuruh anak yatim membayar? Atau para nenek yang hidup pas-pasan jauh dari anak dan telah ditinggal mati para suaminya.

Tak terpikirkan oleh Pak Tarjo bagaimana mungkin ia dan anak istrinya makan dari uang hasil bayaran mereka. Maka Pak Tarjo beritikad untuk dengan ikhlas mengantarkan mereka sebagai bentuk shadaqah yang bisa ia amalkan dalam keterbatasannya.

Namun, melihat kondisinya yang tengah terjepit sekarang ini, ia pun tergoda untuk menarik bayaran dari anak-anak yatim dan para nenek yang biasa menumpang becaknya itu. Mau bagaimana lagi? Daripada ia dan anak istrinya harus kelaparan, atau hutang dengan tetangga yang kian menggunung. Tapi ia berpikir lagi, tidak mungkin itu ia lakukan. Bagaimanapun ia masih punya perasaan. Dan tidak mungkin kondisinya yang terjepit membuat ia harus menjual keikhlasan. Tapi...? Masa' demi amal, diri sendiri dan keluarga harus terkorban? "Utamakanlah diri sendiri dan keluarga", pikirnya lagi. Ohh... Konflik terjadi dalam batinnya. Ditengah lamunan konfliknya itu ia terus mengayuh becaknya. Ia kebingungan, dan semakin kebingungan.

Tiba-tiba, "Allahuakbar Allaaahuakbar...", adzan zhuhur berkumandang. Sayup-sayup sampai ke telinga Pak Tarjo. "Masyaallah, sudah zhuhur lagi?", Pak Tarjo kaget. Ia tak menyangka hari berlalu begitu cepatnya. Rasanya baru beberapa jam yang lalu ia shalat zhuhur, ternyata sekarang sudah masuk waktu zhuhur lagi. Ya, zhuhur ke zhuhur ia lalui dengan pendapatan tak kurang dari 10 ribu rupiah saja. "Aduh, mau makan apa kami hari ini?", gumamnya kebingungan. Tak lama berselang, ia mampir ke sebuah Masjid kecil di pojok kampung Jogokariyan. Lalu ia lepas topi kumalnya, ia lap wajahnya dengan handuk yang tak kalah dekil dari topinya. Ia menghela nafas, tersandar sebentar di tiang dekat becaknya diparkir. Lalu seolah berusaha untuk tegar, ia gelengkan kepala dan bergegas ke tempat wudhu dengan jalan yang tegap.

"Aku harus menghadap Allah dengan baik siang ini. Aku harus do'a lagi kepada Allah tentang kondisiku seminggu terakhir ini.", katanya dalam hati. Lalu ia pun berwudhu. Segarnya kucuran air keran seakan menjadi penyejuk hatinya yang tengah limbung memikirkan kondisinya dan kondisi keuangan keluarganya. Selesai wudhu, ia bergegas masuk Masjid, shalat lalu berdzikir dan berdo'a.

"Ya Allah, bagaimanakah kiranya nasibku ini?", baru saja ia memulai do'anya seusai shalat, mendadak ia dikagetkan oleh seorang pemuda yang berperawakan rapi bersih, memakai baju muslim dan sarung. Peci nya yang hitam, dan tubuhnya yang wangi membuat Pak Tarjo keheranan, kenapa orang ini? Ada perlu apa dengan saya?

"Nuwunsewu nggih Pak, sebentar lagi akan ada kajian, monggo sekiranya bapak tidak sibuk boleh bergabung dengan jama'ah yang lain.", tutur pemuda itu ramah. "Oh, nggih mas, insyaallah.", jawab Pak Tarjo. Seketika konsentrasinya untuk berdo'a bubar. Ia melihat beberapa orang remaja sibuk mempersiapkan kelengkapan kajian ba'da zhuhur itu. Ia pun penasaran dan berpikir tak ada salahnya ia ikut, sekalian istirahat sebentar setelah beberapa hari ini diporsir kejar pendapatan. Siapa tahu karena barokahnya majlis itu, berdampak pada kemurahan rezekinya.

Sang Ustadz pun membuka muhadhoroh-nya dengan bersyukur kepada Allah dan ber-shalawat kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Lalu beliau bercerita tentang satu panggilan Allah kepada hamba-Nya yang pasti kita semua berharap panggilan itu adalah untuk kita.

Ya, dalam al-Qur'an surah al-Fajr ayat 27 sampai ayat 30, Allah memanggil hamba-hamba-Nya yang sholeh dengan panggilan, "Yaa ayyuhannafsul muthmainnah.", lalu Allah memerintahkan kepada mereka itu, "Irji'i ilaa Robbiki rodhiyatammardhiyyah.", dan Allah juga menyuruh mereka, "Fadkhuli fii 'ibadi wadkhuli jannati." Artinya, "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, maka masuklah kedalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam syurga-Ku."

Ustadz tersebut menyampaikan, "Hamba Allah yang mana yang tidak mau dipanggil dengan panggilan 'yaa ayyuhannafsul muthmainnah'?", papar beliau. Pak Tarjo terperangah, ia bertanya kedalam hatinya, mungkinkah ia dipanggil Allah dengan panggilan yang demikian? Ah, rasanya mustahil.

Lalu Ustadz menjabarkan bagaimana asbabun-nuzul nya ayat ini, apa penyebab ayat ini bisa turun. Ada dua versi riwayat, yakni yang pertama ayat ini turun berkenaan tentang syahidnya paman Rasulullah yakni Hamzah radhiallahu 'anhu. Namun ada riwayat kedua dari Ibnu Abi Hatim, dari Juwaibir, dari adh-Dhahhak, bersumber dari Ibnu 'Abbas rahimahullah, mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan amalan seorang shahabat bernama Utsman ibnu Affan.

Saat masa perkembangan Islam di Madinah, kota penuh rahmat itu berada dalam kondisi kekeringan. Hanya ada satu sumur yang airnya senantiasa memancar, namanya sumur Rumat. Sumur ini dimiliki oleh seorang kafir Yahudi yang licik. Ia memberikan air bagi para Yahudi Madinah, namun menjualnya dengan sangat mahal pada kaum Muslimin.

Maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Siapa yang akan membeli sumur Rumat untuk melepaskan dahaga. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosanya." Mendengar itu, lalu Utsman pun bergegas membeli sumur itu. Awalnya Yahudi itu tidak mau, namun karena siasat Utsman dan kepandaiannya dalam melobby, akhirnya sumur Rumat berhasil dimilikinya. Lalu Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada Utsman, "Apakah engkau rela sumur itu dijadikan sumber minum bagi semua orang.", lalu Utsman pun meng-iya-kannya. Maka turunlah firman Allah yakni surah al-Fajr ayat 27-30 berkenaan ridhanya Allah terhadap amalan Utsman yang amat baik dan bermanfaat bagi umat.

"Demikianlah Utsman, dengan kelebihan yang dimilikinya beliau manfaatkan untuk kepentingan umat, bukan untuk dirinya sendiri. Maka Allah meridhai orang yang beramal sholeh dan ikhlas untuk kemashlahatan umat. Dan orang-orang yang diridhai Allah pastilah ia akan ditolong oleh Allah. Mungkin banyak diantara kita yang mampu beramal, tapi sudahkah kita ikhlas? Mungkin banyak diantara kita juga yang mudah beramal ketika kita lapang, namun mudahkah kita tetap beramal dikala kita sempit? Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan nantinya akan dipanggil dengan panggilan 'yaa ayyuhannafsul muthmainnah'...", tutur Ustadz lalu beliau menutup muhadhorohnya.

Pak Tarjo seakan tersentak. Ia teringat niatannya yang akan memungut bayaran dari anak yatim dan para nenek yang biasa menumpang gratis padanya. Bagaimana mungkin ia bisa berniat seperti itu? Padahal mungkin itulah satu-satunya amalannya yang paling ikhlas selama ini.

Astaghfirullah... Pak Tarjo beristighfar. Bagaimana mungkin ia akan dipanggil Allah sebagai 'jiwa yang tenang', sementara ia tidak yakin akan datangnya pertolongan Allah. Ya, ketenangan jiwa hanya didapatkan ketika seorang benar-benar beriman dan ikhlas atas keimanannya, hingga ia yakin setiap masalah yang dihadapinya pasti Allah akan menolongnya. Lalu untuk apa ia gelisah kalau Allah akan menolongnya? Karena itulah ia bisa menjadi 'jiwa yang tenang'.

"Sementara aku? Baru mendapat cobaan kecil seperti ini saja aku sudah gelisah. Seolah aku lupa bahwa Allah itu Maha Tahu, Allah itu Maha Adil, Allah itu Maha Pemberi Rezeki. Bahkan aku rela menjual keikhlasanku. Keikhlasan amalanku yang cuma satu-satunya aku persembahkan untuk umat karena Allah. Astaghfirullah, ampuni hamba ya Allah. Tolong hamba, tolonglah hamba.", muhassabah Pak Tarjo dalam hati, bahkan sampai tertitik air matanya karena tak kuasa menahan gejolak hatinya.

Mungkin inilah rezeki dari Allah untuk Pak Tarjo. Allah memang tak memberinya dalam bentuk penghasilan uang, karena ternyata uang justru membuat Pak Tarjo tetap dalam kejauhan dari Allah. Namun Allah sayang pada Pak Tarjo, lalu Dia berikan Pak Tarjo cobaan hingga Pak Tarjo hampir putus asa. Ditengah kegalauan itu, Allah berikan Pak Tarjo hikmah dan hidayah, hingga Pak Tarjo dapat kembali menata hatinya, menjadi lebih dekat kepada Allah, dan rezeki uang yang akan didapatnya kedepannya menjadi lebih barokah dan mengantarkannya kepada syurga.

Setelah hari itu, Pak Tarjo kembali bersemangat. Ia amat bersyukur Allah sayang padanya. Lalu pelan-pelan namun pasti, pundi-pundi uangnya terisi kembali. Ekonomi keluarganya menjadi stabil, bahkan lebih baik dari kondisi sebelumnya. Semua karena ia ikhlas dan bertawakkal kepada Allah. Tak lupa shadaqah yang ikhlas untuk umat karena Allah, meski ditengah keterbatasan. Inilah kunci keberhasilan yang parameternya bukanlah harta dan materi, tapi parameternya adalah keridhoan Allah atas segala aktifitas kita, hingga nanti Allah memanggil kita masuk syurga dengan panggilan 'yaa ayyuhannafsul muthmainnah...'

Amin ya Rabbal 'alamin...



Yogyakarta, 2 okt 2011

Akhu Mahib

Kuraih Shaf Pertama


Langit senja mulai memerah. Memancarkan bias-bias sinar saga memecah langit. Awan yang putih berubah oranye, semakin gagah dan menggambarkan latar perjuangan insan-insan beriman yang bermandikan darah dibawahnya. Yah... tak lama lagi adzan maghrib akan berkumandang. Merah-merah itu akan berubah biru, lalu hitam. "Mudah-mudahan ada bintang malam ini.", benakku berharap.

Aku masih dijalan kala itu. Menumpangi macan besiku yang setia menemani dalam perjuangan. Kampus adalah tempat yang baru saja aku tinggalkan, hendak menuju istana kecilku yang tak lebih dari 24 meter kubik saja. Kamarku, itu yang kudamba. Kasurku yang tidak terlalu empuk, rasanya bisa menjadi surga dunia kala aku menggeletakkan badan yang tengah letih karena aktifitas seharian ini. Lebih enak lagi kalau ada yang mijitin, hehehe... Tapi sayang aku masih single, and very happy (halah).

Macan besi kukebut, ingin cepat sampai sebelum maghrib. Tapi apa daya, sepertinya semua orang dikota ini berpikiran sama denganku. Mereka tumpah ruah kejalan, hendak menuju rumah masing-masing. Ada yang dari kantor, dari sekolah, dari kampus juga, dan dari banyak tempat lainnya. Hingga jalanan macet semacet-macetnya.

Berkoarlah klakson sana-sini. Belum lagi banyak motor lain yang seolah tak punya rem, suka cari peluang dalam kesempitan, nyelip-nyelip diantara padatnya mobil yang memenuhi jalan. Aku pun tak kuasa apa-apa. Hanya bisa menunggu matahari yang semakin tenggelam. Hingga suara bedug terdengar, disambung merdunya suara adzan.

Akhirnya kuputuskan untuk minggir, mencari Masjid. Mengingat waktu maghrib yang tak panjang, sedang istanaku masih jauh. Sampailah aku di Masjid kecil pada sebuah perkampungan. Sederhana, tapi luar biasa makmurnya. Padahal belum ada 5 menit adzan berlalu, tapi aku melihat pemandangan yang tak biasa. Ya, jama'ahnya ramai! Subhanallah...

Kuparkir motorku dan segera siap-siap berwudhu. Sepanjang jalan dari parkiran ke tempat wudhu, kuintip lagi kedalam Masjid. Masyaallah, aku masih tak percaya Masjid kecil jama'ahnya bisa seramai ini. Sampai di tempat wudhu pun, aku masih harus mengantri, sekitar 2 atau 3 orang sudah berbaris teratur menunggu giliran keran nganggur.

Mungkin aku agak berlebihan, tapi pemandangan ini memang luar biasa di penglihatanku. Sejauh aku shalat berjama'ah selama ini, tak pernah aku lihat jama'ah maghrib seramai ini selain pada awal-awal Ramadhan. Aku sampai berpikir, apakah mau ada pengajian atau bagaimana? Atau ada kedatangan Ustadz kondang, atau tokoh masyarakat kali ya? Tapi kuperhatikan lagi, tak ada tampang-tampang terkenal yang duduk dalam Masjid, Hmm...

Selesai wudhu aku bergegas kedalam Masjid. Kuletakkan ranselku di pojok Masjid agar tak mengganggu jama'ah ketika shalat. Rencanaku ingin menyempatkan shalat sunnah qabliyah maghrib, meskipun ia bukan sunnah mu'akkad, tapi sepertinya mu'adzin sudah bersiap-siap akan mengumandangkan iqamah, hingga kuurungkan niatku (mudah-mudahan tetap dapat pahalanya, hehe...).

Iqamah-pun berkumandang. Para jama'ah segera berdiri dan bersiap shalat. Namun, ada satu hal lagi yang kupandang takjub. Yakni mereka berebut untuk berada di shaf pertama. Bagaimana tidak? Sedangkan ketika iqamah belum berkumandang saja, ada beberapa orang yang sudah bersiap berdiri di sela-sela jama'ah yang duduk di shaf terdepan. Hingga ketika iqamah dikumandangkan, lalu jema'ah yang sedang duduk tadi tengah berdiri, mereka menyelip diantara orang-orang itu dan sukses jadi bagian dari shaf pertama. Ada pula yang tadinya berdiri di belakang, namun ketika iqamah dikumandangkan ia segera melaju kedepan dan berusaha berada di shaf pertama. Beberapa diantara mereka berhasil, namun ada juga yang gagal hingga akhirnya hanya menempati shaf kedua atau ketiga.

Kejadian seperti itu menjadi bahan pikiranku. Hingga cukup membuatku agak tak khusyuk dalam shalat. Aku terus terpikir-pikir mengapa masyarakat disini begitu bersemangatnya shalat berjama'ah di Masjid dan berlomba-lomba untuk berdiri di shaf pertama. Apa motivasi mereka?

Mereka seakan mempunyai ruh yang selama ini hilang dari hati umat. Ya, akhir-akhir ini kebanyakan umat semakin enggan pergi ke Masjid, bahkan untuk sekadar shalat berjama'ah 5 waktu. Rumah jadi jauh terasa lebih nyaman kala adzan memanggil. Mendadak kursi kayu pun berasa sofa, lantai ubin pun berasa permadani, kasur kapuk berubah jadi spring-bed. "Dapat apa di Masjid? Yang ada ntar malah dituduh teroris.", itu celetuk salah satu temanku yang pernah terlontar beberapa waktu yang lalu. Astaghfirullah, geram rasanya, tapi mungkin memang seperti itulah gambaran paradigma masyarakat akhir-akhir ini jika mendengar kata 'Masjid'.

Tapi, kenapa ada secuil kampung yang masyarakatnya masih semangat ke Masjid seperti ini? Apa mereka tidak punya tivi atau radio dirumah? Atau tidak pernah membaca koran dan majalah? Atau jangan-jangan jaringan internet-pun tak ada juga di kampung ini? Hingga mereka tak terjamah media, senjata ampuh pencucian otak sang induk teroris, Israhell dan pacar setianya Amerika Serikat. Akibatnya mungkin kesan mereka terhadap Masjid dan jama'ah Islam masih murni dan bersih dari fitnah-fitnah beracun.

Tapi seingatku, ketika saya tadi lewat rumah Pak Dukuh, beberapa pemuda tengah asyik nonton tivi, kebetulan ada siaran langsung Liga Premiere Indonesia dan mereka sepertinya sedang nonton bareng disana, namun rehat sejenak berhubung masuk waktu maghrib. Hmm..., artinya disinipun tetap dimasuki jaringan media yang hobinya menjelek-jelakkan citra Islam itu. Kalau begitu pasti ada penyebab lain.

Teringat aku dengan kemungkinan malam ini sedang ada pengajian, atau mau ada acara atau apalah. Lalu usai shalat aku tanyakan kepada seorang bapak yang sudah cukup tua yang sedang berdiri di teras Masjid. Ia hendak memakai sandalnya, rambutnya tampak beruban, namun fisiknya masih kelihatan bugar. "Ng..., assalamu'alaikum pak.", sapaku memulai perbincangan. "Oh iya, wa'alaikumussalam. Ada apa ya dik?", jawab bapak itu dengan senyum yang sangat ramah. Lalu tangannya terjulur menawarkan salaman padaku. Segera kusambut tangannya dan kami berjabat tangan. Lagi-lagi ada yang aneh, ketika kami berjabat tangan, bapak itu terasa amat ramah sekali. Serasa sudah lama kenal. Kesimpulan ini kuambil karena ketika bersalaman, tangan kirinya menepuk-nepuk pundakku. Aku rasa, kalaulah aku tidak menunjukkan sikap yang canggung, hampir-hampir aku dipeluknya.

"Ng..., begini pak, saya heran ini kok ramai sekali ya? Mau ada acara apa ya pak?", aku langsung to the point. "Hahaha, waduh si adik ini gimana toh? Kok melihat Masjid ramai begini malah heran? Bukannya seharusnya memang begini?", kata si bapak malah balik bertanya sambil cengengesan. "Hmm, memang sih pak. Tapi kan zaman sekarang sudah jarang Masjid ramai begini. Apalagi sekarang bukan bulan Ramadhan. Biasanya pada sepi pak.", aku segera meluruskan maksud pertanyaanku tadi. "Hahaha...", lagi-lagi bapak itu tertawa, bahkan kali ini lebih keras. "Yah, memang begitulah adanya sekarang dik. Banyak Masjid hanya jadi bangunan kosong. Mungkin kalau bisa dilihat, malah lebih rame jin yang sholat daripada manusia yang sholat. Hahaha...", kata si bapak itu dengan celetukan yang bagiku terdengar horror, tapi baginya itu lelucon yang lucu.

"Lhoh, terus pak, kalau begitu ini ramai karena apa dong pak?", tanyaku lagi, karena aku merasa daritadi si bapak tidak menjawab pertanyaan ini. "Yaa, kan sudah saya bilang tadi dik. Masjid ya seharusnya memang seperti ini, ramai tidak sepi. Ini sih masih lumayan, karena banyak anak-anak muda kampung sini yang masih di kampus, sama beberapa bapak-bapak itu masih di tempat kerja. Kalau adik mau lihat lebih ramainya lagi, datang ke sini pas waktu shubuh. Kalau shubuh Masjid ini lebih padat lagi dek, soalnya yang mau ke kampus masih belum pada berangkat. Yang ke kantor juga mereka sempatkan shalat shubuh di Masjid dulu baru berangkat dan seringkali mereka mengajak anak-anak mereka yang masih kecil.", jelas si bapak. Sontak aku kaget, "Ha??? Kalau shubuh malah lebih ramai lagi pak?", tanyaku refleks karena tak percaya. "Yah, kalau adik tidak percaya boleh buktikan sendiri. Insyaallah besok shubuh juga akan ramai seperti biasanya, datang saja bareng-bareng shalat jama'ah disini.", kata si bapak sambil sumringah.

Subhanallah... Aku hanya terdiam. Kagum. Bangga. Tapi juga heran. Miris, mengapa hanya Masjid ini saja yang seperti itu? Dan mengapa Masjid ini mampu seperti itu?

"Oh, baiklah kalau begitu pak. Terima kasih atas jawabannya. Ng..., sebelumnya maaf pak, ini tangan saya sudah boleh dilepas belum ya?", kataku mengakhiri pembicaraan dan baru menyadari ternyata dari tadi kami masih terus bersalaman. "Oh iya, sama-sama. Boleh dek, kan lebih baik jika salamannya lebih lama. Hehehe...", jawab si bapak, sambil (lagi-lagi) cengengesan.

Lalu aku mengambil ranselku yang tadi kuletak dipojok Masjid. Kulemparkan lagi pandangku ke sekeliling Masjid. Tidak kutemukan aktifitas apapun kecuali beberapa orang yang sedang tartil al-Qur'an, ada juga yang sedang do'a dan dzikir dengan khusyuknya, ada lagi beberapa orang bapak-bapak yang tengah berbincang di teras Masjid, terlihat mesra dan akrab sekali. Di Masjid ini, terbukti benarlah firman Allah pada surah al-Hujurat ayat 10 bahwa setiap mu'min itu bersaudara.

Aku bersiap pulang. Kubangunkan macan besiku, sambil kupandang jalanan yang sudah mulai lengang. Langit yang hitam menjadi tumpuan mataku ketika aku masih melamun memikirkan lagi mengapa Masjid ini bisa seramai ini, kemudian suasananya bisa sehidup ini. Dan yang masih menjadi pertanyaan besar di benakku adalah tentang perilaku dahsyat jama'ah Masjid yang berebut untuk berada di shaf pertama dalam shalat jama'ah.

Centi demi centi, menuju beberapa kilometer, melajulah macan besiku menuju rumah. Akhirnya sampailah aku di surga 24 meter kubik. Kurebahkan diriku diatas kasur keras yang terasa empuk. Letih sekali hari ini. Aku mulai memejamkan mata, menikmati semilir angin dari kipas angin kecil diatas meja lesehan di kamarku. Tak lama berselang, kudengar adzan isya' berkumandang, lalu akupun bersegera ke Masjid dekat rumahku untuk shalat berjama'ah.Sesampainya di Masjid, degg...! Rasanya beda sekali. Sepi... senyap... kuhitung, satu, dua, tiga, yaah cuma sekitar 7-10 orang saja. Padahal Masjid di tempatku ini luas, besar, bangunannya juga cukup megah. Beda sekali dengan Masjid kecil yang kusinggahi tadi maghrib. Kecil, sempit, panas, bangunannya sederhana, tapi terasa jauh lebih tentram dan nyaman karena diisi oleh banyak orang-orang beriman.

Iqamah cepat dikumandangkan. Yah, mau menunggu siapa lagi? Selama apapun jeda antara adzan dan iqamah dibuat untuk menunggu jama'ah, toh kuantitasnya tak jua bertambah. Hanya dua tiga orang lagi saja yang datang setelahku. Mereka semua orang-orang tua yang bahkan sudah menggunakan tongkat untuk berjalan. Sementara tak jauh dari situ, kulihat di pos ronda para pemuda tengah asyik tertawa-tawa. Entah mereka sedang main kartu atau domino, yang pasti sepertinya mereka pakai sumbat telinga. Karena sudah adzan pun seolah tak ada apa-apa, merasa terpanggil untuk shalat pun tidak. Na'udzubillah...

Selesai shalat aku kembali ke surga 24 meter kubik ku. Rencananya aku mau langsung tidur, tapi sepertinya godaan on-line membuatku menunda jam tidurku. Ya, untung saja ada modem di kamar, laptop setiaku juga selalu manut, langsung saja aku operasikan dan dalam sekejap terbukalah jendela dunia.

Disamping aktifitas utamaku ketika on-line (nge-eksis di situs jejaring sosial, hehe...), aku teringat kejadian tadi maghrib, hingga aku searching di mbah-nya search engine, dan kutemukan sebuah tulisan menarik seputar memakmurkan Masjid.

Disana kujumpai penulis menukil sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Kalau seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang ada pada panggilan (adzan) dan shaf pertama kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan undian maka pasti mereka akan mengundinya. Dan kalaulah mereka mengetahui besarnya pahala yang akan didapatkan karena bersegera menuju shalat maka mereka pasti akan berlomba-lomba (untuk menghadirinya). Dan kalaulah seandainya mereka mengetahui besarnya pahala yang akan didapatkan dengan mengerjakan shalat isya dan subuh, maka  pasti mereka akan mendatanginya meskipun harus dengan merangkak." (HR. Al-Bukhari no. 69 dan Muslim no. 437)

Masyaallah, belum selesai aku ter-nganga membaca hadits yang dahsyat itu ternyata penulis masih mengutip hadits lain dari seorang shahabat bernama Abu Said al-Khudri radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihat para sahabatnya terlambat, maka beliau bersabda kepada mereka : "Kalian majulah ke depan dan bermakmumlah di belakangku, dan hendaklah orang yang datang setelah kalian bermakmum di belakang kalian. Terus-menerus suatu kaum itu membiasakan diri terlambat mendatangi shalat, hingga Allah juga mengundurkan mereka (masuk ke dalam surga)." (HR. Muslim no. 438)

Waw! Lagi-lagi aku tercengang membaca sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam yang dahsyat itu. Rasanya mengena sekali. Padahal selama ini yang kutahu hanya hadits yang berbunyi : "Sebaik-baik shaf kaum laki-laki adalah di depan, dan sejelek-jeleknya adalah paling belakang. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah paling belakang, dan sejelek-jeleknya adalah yang paling depan." (HR. Muslim no. 440). Yang hadits ini pun tidak semua muslim memahaminya dengan baik.

Mungkin hadits-hadits tersebutlah yang dipahami oleh masyarakat disekitar Masjid kecil tadi maghrib. Mereka memahami bahwa shalat berjama'ah di Masjid bagi kaum pria itu hukumnya adalah sunnah mu'akkad, dan bagi kaum wanita shalat berjama'ah di Masjid tetap diperbolehkan jika kondisi nya aman dan memungkinkan. Bahkan aku teringat bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam amat menekankan bagi kaum pria agar melaksanakan shalat wajib berjama'ah di Masjid. Buktinya adalah pernah suatu ketika seorang buta datang kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam minta keringanan untuk tidak ikut berjama'ah di Masjid dengan alasan tidak ada orang yang menuntunnya, maka Rasulullah tetap menyuruh pria buta itu datang ke Masjid jika ia masih mendengar suara adzan (cek shahih Muslim).

Inilah bukti bahwa jama'ah itu memang penting! Ya, bagaimana tidak? Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam amat menekankan agar seorang muslim tetap dekat dengan jama'ah, karena disanalah ruh orang-orang beriman. Dalam kesibukan sehari-hari kita,  kita sampai jarang berjumpa saudara-saudara seiman, maka ketika adzan itulah jawaban atas kerinduan. Semua saudara seiman kita seharusnya berkumpul di Masjid kala waktu shalat, dan disanalah kita akan berukhuwah, saling menasihati, saling mengingatkan, saling menguatkan, dan silaturrahim akan terjalin, dan kekuatan umat pun akan terbangun dan kokoh. Urusan seorang itu bahkan buta, itu bukan masalah. Yang penting ia datang ke Masjid, maka seorang saudaranya pasti akan membantunya.

Inilah fungsi Masjid, sebagai wadah jama'ah, BUKAN SARANG TERORIS!

Bagaimana mungkin rumah Allah yang mulia ini kini difitnah sebagai cikal bakal tumbuhnya kekacauan? Sungguh itu adalah fitnah yang amat keji, dan yakinlah Allah akan membalas semua makar itu, karena Allah sebaik-baiknya pembalas tipu daya.

Masyaallah, aku terus berdialog dengan hatiku yang semakin bersemangat menggali ibrah (hikmah pelajaran) lebih dalam lagi dari kejadian tadi maghrib. Senyum-senyum sendiri, kadang geleng-geleng kepala sendiri, hahaha... aku sudah seperti orang kesurupan. Ya, kesurupan hidayah dari Allah, duh nikmatnya...

Kembali hadits tadi kubaca-baca. Ya, memang inilah yang dipahami masyarakat Masjid kecil tadi maghrib. Mereka tahu, bahwa shaf pertama jama'ah laki-laki memiliki keistimewaan luar biasa. Baca saja sendiri hadits tadi lagi. Bahkan Rasulullah sampai menggambarkan seandainya kita tahu benar betapa luar biasanya shaf pertama, maka kita pasti akan mengadakan undian demi mendapatkan singgasana sajadah di shaf pertama. Subhanallah...

"Tahukah kamu sesuatu apa yang sampai-sampai jadi objek undian itu?", tanya kata hatiku. "Tentulah ia sesuatu yang sangat istimewa. Istimewa! Sangat istimewa!", kata hatiku sedikit bawel. Ya, aku jadi teringat salah satu kuis reality yang tayang di tivi. Tebak-tebakan tirai, mengundi nasib dan keberuntungan, hanya demi mendapat sebuah mobil yang kelihatannya mewah. Itu hanya mobil, ah... cuma duniawi. Sedangkan ini? Pahala dari Allah yang luar biasa. Efeknya dunia akhirat coy! Bagaimana mungkin kita tidak ngiler? Untung saja kita tidak diberi tahu seberapa besar manfaatnya jika kita bisa shalat berjama'ah di shaf pertama. Kalaulah kita tahu, mungkin sampai terjadi pertumpahan darah demi memperebutkan shaf terdepan. Lebay? Tidak, ini tidak lebay sama sekali. Inilah kenyataannya.

Siapa yang tidak mau masuk surga lebih dulu (baca hadits selanjutnya)? Adakah diantara kita yang mau masuk surga belakangan? Memang sih judulnya ujung-ujungnya tetap masuk surga, tapi kalau bisa lebih dulu kenapa harus belakangan? Kalau surganya udah keburu penuh gimana? Kalau malaikatnya berubah pikiran gimana?

Maka wajarlah kalau seandainya kita tahu betapa besar manfaat bagi diri kita jika kita dapat shaf pertama, maka kita akan berusaha dengan berbagai cara supaya kita bisa jadi yang terdepan.

Aku teringat dengan cerita temanku yang Alhamdulillah Allah memberinya kesempatan berkunjung ke tanah suci Makkah dan Madinah dalam lawatan umroh nya. Ia memang seorang yang baik dan cukup ilmunya, hingga kala itu ia telah mengetahui bagaimana keutamaan shaf pertama.

Ketika ia pulang, aku tanyakan padanya, "Gimana? Dapat nyium hajarul aswad gak?". Dia menjawab, "Alhamdulillah dapat gan, tapi ada yang jauh lebih nikmat daripada itu. Luar biasa, istimintil dah pokoknya...". Aku penasaran, "Apaan tuh?" (Udah kayak Om Jaja Miharja pas bawain kuis dangdut zaman dulu aja tuh, hehehe...). "Aku diberi Allah kesempatan berada di shaf pertama, pas shalat maghrib lagi. Imam nya Syaikh as-Sudais yang suaranya merdu itu lho. Yang murottal MP3 nya sering diputar kalau sebelum Jum'atan... Hehe.", jawabnya sambil senyum-senyum, membayangkan indahnya kala dia berhasil dapat shaf pertama.

Aku heran, memang apa bagusnya?

"Lah, cuma gitu doang? Memang kenapa? Biasa aja tuh...", komentarku yang sedikit agak ketus, karena aku tidak paham apa hebatnya jadi shaf pertama. "Wah, jangan anggap sepele gan...", tukasnya. "Kamu tahu? Shaf pertama itu keutamaannya luar biasa. Cari sendiri deh haditsnya. Bayangin aja, shalat di Masjidil Haram itu pahalanya 100.000 kali lipat daripada shalat di Masjid lain. Belum lagi kalau berjama'ah pasti dilipatgandain jadi 25 sampai 27 derajat. Belum lagi kamu shalat di shaf pertama, shaf yang paling utama. Dan kamu tahu aku shalat dimana? Di depan Ka'bah Men! Depan Ka'bah! Artinya, aku shalat di shaf paling pertama dari seluruh shaf di dunia... Mana imamnya Syaikh as-Sudais lagi, aku dengerin murottalnya live in shalat, gak perlu pakai MP3 segala. Subhanallah...", ia bercerita sambil menerawang langit dan senyam senyum sendiri, tangannya mengelus-elus dada dan akhirnya memegang pipinya yang sudah pegal karena kebanyakan senyum.

Subhanallah. Kalau sekarang kuingat lagi ceritanya itu, memanglah wajar ia merasa shalatnya saat itu jauh lebih istimewa daripada mencium hajarul aswad. Jauh terasa lebih nikmat daripada ia meminum zam-zam. Jauh terasa lebih indah daripada ia shalat dalam hijr Ismail. Ia bercerita bagaimana perjuangannya meraih shaf pertama di depan pintu Ka'bah. Pernah sekali ia shalat di shaf pertama, tapi di belakang pembatas hijr Ismail, berbeda sisi Ka'bah dengan sang imam. Ia tak puas. Lalu ia mencoba lagi untuk shalat di shaf pertama yang berada di belakang imam. Ia memang mengincar waktu maghrib, karena biasanya imamnya adalah Syaikh as-Sudais yang terkenal syahdu suaranya dan baik akhlaqnya.

Percobaan pertamanya gagal, karena ia terlambat mem-booking shaf. Padahal ia sudah datang setengah jam sebelum waktu adzan. Akhirnya percobaan keduanya ia lakukan lagi, dan gagal lagi. Padahal ia sudah berhasil duduk di shaf pertama, tapi mendekati waktu shalat ia disuruh pindah ke shaf belakang karena shaf tempatnya duduk sudah ada yang punya, yakni para pemuka-pemuka Masjidil Haram. Masyaallah, betapa geramnya dia. Dia mencoba protes tapi yang ada dia malah didorong-dorong oleh Polisi Masjid, dipaksa pindah ke shaf belakang. Percobaan ketiganya barulah ia berhasil. Satu jam sebelum adzan dia sudah nongkrong dekat rukun Iraqi. Satu jam dia bertahan ditabrak-tabrak oleh orang yang sedang tawaf. Dia diprotes oleh banyak orang karena dianggap mengganggu lintasan tawaf, tapi dia bersikukuh tetap duduk disana. Semakin mendekati waktu shalat, semakin banyak orang yang duduk berbaris disampingnya.

Hingga duduklah di sebelahnya seorang pemuda Badui yang amat ramah dan humoris. Ia tampaknya adalah santri dari Ma'had Masjidil Haram. Lalu dengan bahasa arab temanku ini yang pas-pasan, ia mencoba ngobrol dengan pemuda arab yang tak pandai berbahasa inggris itu. Walhasil, si pemuda arab tadi terkesan dengan temanku dan suka berbincang dengannya. Sampai sempat juga sebenarnya temanku itu diusir oleh Polisi Masjid karena shafnya mau dipakai untuk para Syaikh Masjidil Haram, tapi si pemuda arab tadi membela temanku dan akhirnya ia tetap berada pada shafnya.

Subhanallah, demikianlah perjuangan seorang temanku demi mendapatkan shaf pertama. Shaf terbaik yang ada dari sekian banyak shaf dalam Masjid.

Lagi-lagi, inilah yang dipahami oleh masyarakat Masjid kecil tadi sore, hingga mereka berebut berada di shaf pertama. Mereka paham, posisi menentukan kesuksesan masa depan. Demikianlah ajaran Islam, sungguh luar biasa.

Saya pernah ikut sebuah training motivasi, dan sang Trainer menyuruh peserta untuk mengisi kursi didepan yang rata-rata masih kosong. Dia mengatakan, "Anda adalah calon orang sukses, calon orang terdepan, maka biasakanlah diri anda berada di depan, supaya anda tidak kaget ketika benar-benar menjadi orang sukses dan terdepan.", maka sungguh dengan ini kukatakan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam telah jauh lebih dulu mengajarkan itu.

Inilah kesempurnaan Islam. Oh..., aku jadi merinding sendiri.

Dari Masjid kecil yang masyarakatnya menghidupkan sunnah itu. Mulai dari membiasakan shalat wajib berjama'ah di Masjid, kemudian jama'ah pria nya berebut ada di shaf pertama, belum lagi si bapak yang mengajariku bersalaman ketika berjumpa, dengan salaman yang hangat dan diperlama. Belum lagi masyarakatnya yang terbiasa shalat shubuh di Masjid, mungkin begitu pula dengan shalat isya', karena mereka tahu bahwa dua shalat itu memiliki keutamaan yang luar biasa jika dilaksanakan di Masjid, dan hanya orang-orang munafiq sajalah yang merasa berat untuk mengerjakan dua shalat itu berjama'ah di Masjid (cek shahih Bukhari no. 141 dan shahih Muslim no. 651).

Ya, dari Masjid kecil itulah aku dapat banyak hikmah dan pelajaran. Lagi-lagi Allah memberi hidayah kepadaku agar aku lebih dekat dengan-Nya.

Sungguh tertanam tekad dihati ini bahwa akupun akan selalu berusaha menjadi yang terdepan. Dimulai dari shalat berjama'ah di Masjid. Aku tak mau kalah dengan temanku yang tadi kuceritakan. Aku bangga dengan Islam, karena ia mengajarkanku hidup dalam kesuksesan. Tak hanya di dunia, tapi juga di akhirat.

Wahai shaf pertama, tunggu aku dalam setiap waktu shalat. Jika aku sering menjadi bagian darimu, pastilah aku akan jadi bagian terdepan dalam setiap karir-karirku. Jika aku sering menjadi bagian darimu, pastilah aku jadi bagian dari golongan orang-orang yang pertama masuk kedalam surga.

Amin ya Rabbal 'alamin.

Yogyakarta, 5 Oktober 2011
Akhu Mahib

1 Oktober 2011

Menjadi Mentor Luar Biasa!

Sahabatku yang senantiasa memberikan nilai-nilai kebaikan,
Kita ini adalah guru bagi siapa pun. Guru yang tidak harus berlabel sebagai pengajar di sebuah sekolah atau bimbingan belajar atau di sebuah perguruan tinggi. Kita bisa jadi pengajar bagi orang lain, dalam diskusi, dalam bertukar pikiran, dalam ruang kecil bernama kamar atau dalam kehidupan yang tak pernah kita duga. Guru, digugu dan ditiru. Ia adalah pengumpan kebaikan dan membimbing manusia yang buruk menuju manusia yang berbudi pekerti mulia.
Kita merupakan seorang muslim. Seorang muslim dituntut untuk menjadi guru kehidupan bagi orang lain. Dakwah yang telah mengalir dalam darah kita, menelusuri setiap kewajiban untuk mengingatkan siapa pun menuju jalan ALLOOH SWT. Jalan yang akan mengangkat derajat manusia menjadi mulia di sisi ALLOOH SWT.
Kita mengurusi ummat yang telah berada dalam titik nadir kehancuran. Kita perlu menyadarkan mereka, sehingga bagi siapa pun, mari menjadi pengajar dan mengajari mereka bagaimana menemukan islam serta menyelami setiap makna kebenaran dari ALLOOH SWT.
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri“
(Fussilat ayat 33)
Sahabatku yang senantiasa berlaku seperti pengajar,
                Tentu sebelum kita menjadi seorang pengajar atau biasa disebut seorang tutor atau musyrif, maka kita pernah berlaku menjadi yang diajar, ditutorkan atas daris. Maka, tentu seorang yang mulia adalah mereka yang tidak menghambat keilmuannya terbatas pada dirinya saja, tetapi berusaha ia tebarkan bak harum-haruman yang dapat tercium oleh siapa pun.
                Layaknya seorang tentara yang akan berjuang di medan perang, ia akan berusaha menyiapkan strategi, peralatan dan diri agar tidak mudah kalah dan terjebak dalam kesalahan. Begitu juga dengan seorang pengajar, ia harus mendesign perilakunya, mendesign pengajarannya, agar orang tertarik dengan bahasa kita dan tsaqofah yang berasal dari ALLOOH SWT.


                Perihal di atas, adalah permasalahan keseharian yang bisa jadi diantara kita pernah menemukan sosok – sosok guru seperti tersebut. Dan saya pun terkadang, masih melihat permasalahan ini dalam diri saya pribadi. Ya, oleh karena itu kita juga perlu belajar dari kepribadian kita sendiri, belajar memperbaiki diri agar kita dapat menuju upaya maksimal menjadi seorang yang mendidik untuk mereka yang bercita-cita dan berhasrat besar.
                Halaqoh, Mentoring, Tutorial dan kegiatan belajar mengajar pada akhirnya menjadi seremonial belaka yang tidak mampu menjawab kepuasan ruhiyah kita untuk menggali ilmu ALLOOH yang luas ini. Jiwa kita bisa jadi hadir dalam pertemuan itu, tetapi gara-gara itu semua batin yang harusnya ikut serta juga terpaksa tak bisa mendengarkannya. Itu semua, bisa jadi kita selaku yang diajar dan mengajar ternyata tak bisa mengerti betapa pentingnya sistem penyaluran keilmuan itu.
                Lantas apa yang harus kita lakukan? Apa yang seharusnya kita siapkan untuk itu semua. Maka kita akan mulai dari 3 pertanyaan.
1.       “APA YANG ADA DI DALAM HATI KITA?”
2.       “ARE YOU LEADER?”
3.       “APAKAH KITA SIAP UNTUK BERHUBUNGAN DENGAN ORANG LAIN?”
Pada pertanyaan pertama, mari kita tuntaskan agar kita dapat mengajarkan semua orang dengan hati yang damai dan penuh kepercayaan. Kita perlu menjawabnya agar kita dapat sepenuh hati dan pengorbanan mengajarkan banyak orang tentang kehidupan dan ajaran islam yang menyeluruh.
Apa yang ada di dalam hati kita? Maka, dalam hati kita, terisi tentang dari semua ilmu yang kita dapatkan ini, kita berikan yang baik, yang benar, yang kemungkinan mendekati kesalehan dan tentu yang dapat mendidik manusia menjadi pribadi yang soleh dan taqwa. Di dalam hati kita, yang telah memilih bagian jalan islam, dan memberikan pengajarannya.
Yang kita ajarkan untuk memenuhi keilmuan, kepuasan jiwa yang terlampau rapuh. Di dalam pembelajaran itu, kita harus niatkan bahwa yang kita ajarkan adalah sebuah hikmah yang harus disampaikan dengan benar dengan siapa yang kita ajarkan.
“Serulah manusia ke jalan tuhanmu dengan hikmah & pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik”.(An Nahl ayat 125)
Pertanyaan kedua, sejauh mana kita dapat memimpin diri kita, bertanggung jawab atas apa yang kita punya. Ilmu yang kita dapat adalah tanggung jawab yang harus diberikan kepada mereka yang berhak untuk mendapatkan pengetahuan dari kita. Menyembunyikan ilmu merupakan bentuk dari kegagalan kita menjadi pemimpin. Melatih menjadi seorang pengajar berarti juga berusaha menjadi pemimpin. Lihat saja, seorang Ayah akan belajar bagaimana memimpin keluarganya. Bisa jadi dengan memberikan pengajaran kepada anak-anaknya.
Belajar menjadi seorang tutor, juga belajar bagaimana teknik memimpin. Dan disinilah, kita dapat meraih dan mengejar ilmu kepemimpinan tanpa kita sadari. Dengan kesabaran, keikhlasan dan pengorbanan untuk memberikan kebaikan kepada orang lain maka kita telah berusaha memiliki sifat-sifat kepemimpinan. Jadi, “Are you leader?” di sini adalah kesungguhan anda untuk menjadi pemimpin yang baik, yang dikenal dapat bertukar pikiran, terbuka dan ramah. Juga bijaksana dalam menilai sesuatu.
“Orang paling berguna di dunia hari ini adalah pria/wanita yg tahu bagaimana bergaul dengan orang lain”.
(“Winning with People”, John Maxwell)
Pertanyaan ketiga diselesaikan dengan seberapa banyak anda dapat berkomunikasi. Dakwah mau tidak mau memerlukan komunikasi. Karena bahasa dakwah adalah bahasa komunikasi. Semakin tinggi tingkat dan derajat manusia di dunia, maka bahasa yang digunakan pun harus disesuaikan. Tentu, ini merupakan salah satu teknik agar pesan-pesan yang disampaikan dapat dipahami.
Jadi kita akan mendealkan, bahwa yang namanya pengajar, adalah mengajarkan sesuatu dan menuaikannya. Prosesi dakwah adalah prosesi yang menyatukan ketulusan hati yang didasarkan niat yang penuh keikhlasan karena ALLOOH, keterampilan dalam memimpin untuk menyadarkan manusia untuk bersegera menuju kesempurnaan islam dan menggunakan bahasa komunikasi yang dapat dimengerti banyak orang.
Sahabatku yang senang dalam dakwahnya,
Sesungguhnya, kita-kita ini adalah makhluk yang akan kembali kepada ALLOOH SWT. Alur perjalanan dakwah yang bercita-cita membangun peradaban islam yang agung ini belum tahu benar sudah berada di jalur yang mana. Kemenangan, kejayaan dan kesatuan ummat dimulai dari keberanian kita untuk mendewasakan pemikiran kita dan menyebar luaskannya. Jadilah guru kehidupan, jadilah pembelajar sejati.
Ibnu Abbas r.a berkata, “Tiga hak yang harus aku penuhi untuk teman bicaraku: (1) memandangnya dengan mataku jika ia menghadapku, (2) Meluaskan tempatnya jika ia duduk, (3) mendengarkan dengan seksama jika ia berbicara”.
Selain itu, seorang guru adalah mereka yang menjadi pendengar dan sekaligus pemberi nasehat. Ingatlah, terjun sedalam-dalamnya dalam mengenal kepribadian dan pemikirannya. Bersabar atas keluh kesahnya, karena keluh kesahnya tak akan sebesar permasalahan ummat yang hidup tanpa kemuliaan islam ini.
“Kita adalah cermin diri kita Siapa kita, menentukan bagaimana kita melihat orang lain dan bagaimana orang memandang kita. Maka orang pertama yang harus diperiksa adalah diri kita sendiri”
 (Zero Mind)

Ingatlah, bisa jadi ini akan mengubah kehidupan dan kepribadian kita. Mengelola perubahan diri dan kesetaraan jiwa serta mengangkat kita menjadi pribadi yang mudah bermuhasabah. Seorang yang besar bukan langsung menjadi besar pengaruhnya, tetapi ia hidup dari proses bersosialisasi dan menyebarkan ide-idenya dengan menjual program dan pemikirannya kepada orang lain, agar orang tersebut menyadari betapa penting kehadiran pemikiran dan jiwa orang tersebut.
“Dakwah atau mentoring adalah berarti seni menyentuh hati dan pemikiran , dan hati tidak akan pernah tersentuh sebatas retorika indah. Ia butuh hati yang satu frekuensi dan saling beresonansi. Maka sentuhlah hati dengan hati, sentuhlah pemikiran dengan pemikiran”. 

28 September 2011

Industri dan Teknologi Militer Negara Khilafah


Masa awal pemerintahan Islam, jihad sebagai metode mendasar penyebaran dakwah Islam telah menjadi bagian penting dari upaya membangun kekuatan Daulah Islam. Jihad adalah perang di jalan Allah untuk meninggikan kalimat Allah. Oleh sebab itu diperlukan persiapan baik logistik, formasi perang, strategi, komandan dan para pasukan serta persenjataan. Persenjataan mengharuskan adanya industri.

وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدْوَّ اللّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ ﴿٦٠﴾
Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan unuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah, musuh kalian, dan orang-orang selain mereka yg tidak kalian ketahui sedangkan Allah mengetahuinya.” [Q.S. Al-Anfal: 60]
Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan untuk membangun kekuatan agar musuh yang dihadapi merasa gentar. Sedangkan musuh tidak akan gentar kecuali dengan adanya persiapan, dan persiapan itu mengharuskan adanya industri persenjataan. Ayat di atas mengandung ‘illat syar’I bagi kaum Muslim untuk mempersiapkan kekuatan (kuda-kuda untuk berperang). Dan ‘melontarkan rasa takut kepada musuh’ merupakan ‘illat-nya.
Kewajiban ini dipahami menurut dalâlah iltizâm atau kaidahmâ lâ yatimmu al-wâjib illâ bihi fahuwa wâjib (suatu kewajiban yang tidak akan sempurna kecuali dengan adanya sesuatu maka sesuatu itu menjadi wajib hukumya). Jadi, mendirikan industri militer/perang wajib hukumnya berdasarkan mafhum dari dalil tersebut.
Manjaniq (Swing-beam)
Manjaniq pertama kali digunakan oleh kaum Muslim pada peristiwa pengepungan Bani Thaif. Adalah Salman Al-Farisi -seorang Persia yang masuk Islam di masa Rasulullah Saw- orang pertama yang memproduksi senjata ini atas perintah Nabi Saw.
Manjaniq merupakan mesin balok pengayun yang dioperasikan oleh orang-orang yang menarik tali pada satu sisi balok sehingga ujung yang lain akan berayun sangat kuat dan menembakkan misil dari tali yang menempel pada ujungnya.[1]

Manjaniq sebenarnya telah dikenal sebelum masa penaklukan Islam. Bangsa Avar pernah menggunakannya pada penyerbuan Thessalonica di tahun 597 M. Bahkan mesin pelontar ini dipercayai dicipta pertama kali oleh China antara abad ke-5 dan ke-3 SM, dan sampai ke Eropa sekitar 500 M[2]. Lalu pada masa pemerintahan Islam, Salman mengusulkannya kepada Nabi Saw sebagai senjata perang, seperti yang diriwayatkan dalam Sirah al-Halabiyah.
“Hingga pada hari pecahnya dinding benteng Thaif,” demikian Ibnu Hisyam meriwayatkan dalam kitab Sirah-nya, “Sekelompok sahabat Rasulullah Saw masuk ke dalam bawah dababah[3], lalu mereka berusaha masuk ke dalam dinding benteng Thaif agar mereka bisa membakar pintu benteng. Bani Tsaqif lalu melemparkan potongan-potongan besi yag telah dipanaskan dengan api sehingga membakar dababah yang ada dibawahnya, kemudian Bani Tsaqif melempari mereka dengan anak panah sehingga beberapa orang gugur.” [4]
Atas usulan Salman ini, Nabi Saw langsung mengangkatnya sebagai mudir[5] untuk mengelola industri militer dan memproduksi manjaniq untuk memperkokoh kekuatan pasukan artileri yang dipersiapkan untuk terjun ke medan tempur.
Pedang Damaskus (Sword of Damascus)
Dihiasi dengan ornamen garis bergelombang, lentur, ringan, dan mampu menembus baju zirah, menjadikan pedang damaskus salah satu senjata perang paling bersejarah.
Pedang ini diproduksi di Damaskus pada abad ke-12 M.[6] Eropa lalu mencoba membuat yang serupa dengannya, namun hingga saat ini masih belum mampu meniru 100%. Bahkan dengan teknologi metalurgi sekalipun belum dapat membuat tandingan yang memiliki ketajaman yang sama dengan Pedang Damaskus ini.

Pedang yang pernah membuat gentar Pasukan Salib ini, memiliki semacam lapisan kaca di permukaannya. Sutra akan terbelah bila jatuh di atasnya. Pedang lain pun akan menemui nasib yang sama jika beradu dengannya. Tidak ada yang menyangka, bahwa ilmuwan Muslim telah menerapkan teknologi nano sejak seribu tahun yang lalu.
Selama ratusan tahun, tidak ada yang mengthui rahasia kehebatan pedang tanpa tanding ini. Adalah John D. Verhoeven -seorang profesor metalurgi modern dari Iowa State University- yang berkolaborasi dengan Alfred H. Pendray, seorang tukang besi dari Florida, yang telah mencoba membuat pedang ini selama bertahun-tahun. Dari penerapan nanoteknologi bahan impurities (non-besi dan non-carbon) dalam adonan baja yang membentuk pola mirip aliran air yang dikenal dengan Multi Walled Carbon Nano Tube[7], barulah diketahui rahasia di balik kehebatan pedang damaskus ini.

Teknologi Pembuatan Mesiu (Gunpowder)
Tidak hanya mumpuni dalam seni membuat pedang, kaum Muslim juga mampu mengembangkan teknologi pembuatan mesiu. Walaupun senyatanya bubuk mesiu pertama kali ditemukan di Cina yang digunakan sebagai alat pembakaran pada abad 9 M, dua abad sebelumnya seorang ahli kimia Muslim Khalid bin yazzid telah mengenal lebih dulu potassium nitrat (KNO3), bahan utama pembuat mesiu.[8]

Eropa baru mengenal mesiu setelah dibawa oleh pasukan Mongol pada tahun 1240 M.[9] Dan selanjutnya dikembangkan menjadi bahan peledak, misalnya untuk mendorong peluru, kemudian seabad setelahnya disempurnakan menjadi senjata api.

Jauh sebelum Eropa mengembangkan teknologi pembuatan mesiu, ilmuwan-ilmuwan Muslim telah lebih dulu mencobanya. Banyak ilmuwan Mulim yang menguasai teknik pemurnian potassium, sebuah teknik yang tak diketahui oleh orang-orang Cina. Jabir Ibnu Hayyan (wafat tahun 815 M), Abu Bakar Al-Razi (wafat tahun 932), dan Hasan Al-Rammah adalah ilmuwan-ilmuwan Muslim yang telah menguasai teknik ini dan telah dijelaskan di dalam karya-karya mereka. Teknik pemurnian ini dilakukan agar potassium bisa digunakan sebagai bahan peledak.
Pemurnian potassium ini pernah diklaim Barat sebagai temuan Roger Bacon. Namun klaim ini dipatahkan sendiri oleh ilmuwan Barat lainnya yaitu Partington. Hasan Al-Rammah telah menjelaskan proses ini secara rinci di dalam karyanya Al-Furusiyyah wa Al-Manasib Al-Harbiyyah. Penguasaan Al-Rammah atas penggunaan bubuk mesiu sangat luar biasa. Ia telah berhasil menulis sebanyak 107 rumus atau resep penggunaan mesiu. 22 resep di antaranya diracik khusus untuk membuat roket.

Saat Perang Salib meletus tahun 1249 M, Raja louis IX dan para pasukannya pernah merasakan kehebatan moncong meriam dan roket kaum Muslim. Betapa hebatnya dampak proyektil yang ditembakkan pasukan Muslim, membuat Raja Louis IX kewalahan dan akhirnya takluk. Peristiwa itu diakui sendiri oleh Jean de Joinville, salah seorang perwira tentara Perang Salib.
The Mohammed’s Greats Gun
Inilah salah satu senjata paling fenomenal yang digunakan dalam perang paling menakjubkan sepanjang sejarah. The Mohammed’s Greats Gun, itulah sebutan senjata yang dibuat pada tahun 1942 ini . Meriam ini dibuat sebagai jawaban atas keinginan Muhammad al-Fatih untuk menjebol benteng pertahanan Kostantinopel.

“Aku dapat membuat meriam tembaga dengan kapasitas seperti yang Anda inginkan,” kata Orban -seorang ahli insinyur yang diundang Al-Fatih ke Adrianopel-, “Aku telah mengamati secara detail tembok di Konstantinopel. Aku tidak hanya akan memorakporandakan tembok itu dengan senjataku. Bahkan, tembok Babilonia pun akan hancur karenanya.”[10]

Tentu saja hal ini disambut gembira oleh Muhammad Al-Fatih. Impian untuk mewujudkan bisyarah Rasulullah Saw (tentang takluknya Kontantiopel) sudah di depan mata. Maka dijalankanlah proyek tersebut. Dan senjata terbesar di dunia yang pernah ada pada masanya akhirnya berada dalam genggaman Muhammad Al-Fatih. Memiliki panjang 8,2 meter, diameter 76 cm, dengan berat 18,2 ton, meriam ini sanggup melontarkan bola besi padat berdiameter 70 cm dengan berat 680 kg sejauh 1,6 km.

Militer Hebat, Negara pun Kuat

“Pasukan Utsmaniy sangat cepat gerakannya,” ujar Bertrand de Broquiere –seorang pengembara asal Perancis-, “Seratus pasukan Kristen akan jauh lebih gaduh dari sepuluh ribu pasukan Utsmaniy. Tatkala genderang perang telah ditabuh, maka dengan segera mereka akan bergerak, mereka tidak akan berhenti melangkah hingga komando dikeluarkan. Mereka adalah pasukan yang terlatih. Dalam semalam mereka mampu melakukan tiga kali lipat perjalanan yang dilakukan oleh musuh-musuhnya orang-orang Kristen.”[11]
Kaum Muslim memang telah berhasil membangun angkatan bersenjata yang kuat dan pasukan yang terlatih. Walaupun tidak bisa dikatakan bahwa militer sebagai satu-satunya faktor penentu kemenangan di medan perang, tetapi ia merupakan salah satu sebab di antara sebab-sebab yang mengantarkan kepada kemenangan. Maka tak heran jika Rasul Saw sangat memperhatikan strategi perang, kekuatan pasukan, dan persenjataan di setiap peperangan. Dan selanjutnya juga menjadi perhatian para Khalifah pada masa sesudahnya.
Di masa Abbasiyah, sebagaimana yang dituturkan oleh Philip K. Hitti, “tentara kaum Muslim terdiri dari pasukan infanteri (harbiyah) yang bersenjatakan tombak, pedang dan perisai, pasukan panah (ramiyah) dan kavaleri (fursan) yang mengenakan pelindung kepala dan dada, serta bersenjatakan tombak dan kapak. Tiap pasukan pemanah membawa pelontar nafa (naffathun), mengenakan pakaian anti api dan melontarkan bahan mudah terbakar ke pasukan musuh.”[12]
Ibn Shabir al-Manjaniqi, seorang arsitek kondang pada masa an-Nashir (1180 – 1225), telah menulis sebuah buku tentang teknik dan seni peperangan. Pada masa itu juga, para arsitek telah membangun mesin pengepung, seperti katapul, pelontar, dan pendobrak.[13]
Tak hanya tangguh di darat, tentara kaum Muslim pun hebat di laut. Mu’awiyah adalah khalifah pertama yang melancarkan jihad melalui lautan. Kemudian pada masa Khalifah Abdul Malik, industri peralatan maritim untuk pertama kalinya dibangun di Tunisia. 
“Dari sana, penaklukan atas Sisilia diberangkatkan,” demikian Ibnu Khaldun menceritakan dalam Muqaddimah-nya, “Dan pada masa itu pula ditaklukkan Qusharrat. Setelah itu di bawah Bani Ubaidi dan Bani Umayyah, armada Ifriqiyah dan Andalusia terus-menerus bergantian menaklukkan kota demi kota.”[14]

“Selama masa pemerintahan Daulah Islamiyah,” lanjut Ibnu Khaldun, “kaum Muslim menaklukkan seluruh sisi lautan. Kekuasaan dan dominasi mereka semakin luas. Bangsa Kristen tak dapat berbuat apa-apa terhadap armada kaum Muslim, di mana pun di laut Tengah. Sepanjang waktu, kaum Muslim mengarungi gelombang untuk menguasai semua semenanjung yang membujur di pantai Laut Tengah, seperti Mayorca, Minorca, Ibiza, Sardinia, Sisilia, Pantelleria, Malta, Crete, Cypus, dan semua provinsi Mediterranean Romawi dan Franka.” [15]Penaklukan dan penyebaran Islam yang begitu massif bukanlah semata-mata karena militer yang kuat, tetapi faktor utama semua itu adalah ideologi Islam. Motivasinya pun bukan lantaran memburu ghanimah (harta rampasan perang) atau sumber daya alam. Semua wilayah yang akan ditaklukkan sama di mata kaum Muslim, baik kaya maupun miskin. Seperti Afrika Utara yang tak punya kekayaan apa pun, kaum Muslim dengan penuh keyakinan masuk ke sana dan menyebarkan Islam.Sungguh, suatu saat nanti musuh-musuh Islam akan terperangah menyaksikan kekuatan kaum Muslim bangkit kembali. Mereka akan menggenggam Timur dan Barat sebagaimana orang-orang sebelum merka. Islam akan masuk sedemikian cepat ke dalam setiap rumah dengan segenap kemuliaannya.“Sungguh perkara agama ini,” demikian Rasul Saw mensabdakan dalam riwayat Imam Ahmad, “akan sampai ke seluruh dunia sebagaimana sampainya malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun, baik di tengah penduduk kota atau di tengah penduduk kampung, kecuali Allah akan memasukkan agama ini ke dalamya dengan kemuliaan yang dimuliakan dan kehinaan yag dihinakan; kemulian yang dengannya Allah memuliakan Islam dan kehinaan yang dengannya Allah menghinakan kekufuran.”[16]Wallahu a’lam bi ash-showwab.[Kusnady Ar-Razi/eramuslim]
Endnotes:
[1] Hugh Kennedy dalam The Great Arab Qonquests, Alvabet, hlm. 75.
[2] Ibid, hlm. 75
[3] Semacam tank yang terbuat dari kayu
[4] Ibnu al-Qayyim juga menukil riwayat yang sama di dalam Zad al-Ma’ad, keduanya dari Ibnu Ishaq.
[5] Direktur atau yang mengelola departen tertentu.
[6] http://www.muslimdaily.net/wacana/3665/seni-membuat-pedang-di-era-khilafah
[7]http://www.lacasadelaespada.com/tiendas/catalogo/product_info.php/cPath/54/products_id/839?
[8] http://www.dakta.com/berita/nasional/1596/teknologi-pembuatan-mesiu-di-masa-khalifah.html
[9] Phiip K. Hitti dalam bukunya berjudul “History of The Arabs”, Serambi (Jakarta), hlm. 850.
[10] Felix Y. Siauw, sebagaimana tertulis dalam karyanya yang berjudul “Beyond The Inspiration”, Khilafah Press (Jakarta), hlm. 194.
[11] Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi,”Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah”, Pustaka Al-Kautsar (Jakarta), hlm. Xiii. Dikutip dari Lord Kinross pengarang buku “The Ottoman Centuries: The Rise and The Fall of Turkish Empire”.
[12] Philip K.Hitti, hlm. 408
[13] Ibid,hlm. 408
[14] Ibnu Khaldun dalam “Muqaddimah”, hlm. 316
[15] Ibid, hlm. 317 
[16] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Tamim Ad-Dari r.a.
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes